Sebenarnya agak cemas juga, mendengar beberapa teman-teman Zahra sudah
mendapat haid "tamu bulanan", walaupun Saya tahu bahwa sudah menjadi
kodrat seorang wanita mendapat haid. Akan tetapi kecemasan ini tak bisa
dihilangkan, mengingat Zahra baru berumur 10 tahun, yang manjanya tidak
ketulungan. Buat Saya, Ia masih seorang gadis kecil, sepertinya tidak tega,
diusianya yang baru 10 tahun, sudah mendapat haid.
Sudah sejak beberapa bulan yang lalu, Zahra sering bertanya mengenai masalah
haid. Sebagai seorang ibu tentunya tidak ingin dalam momen seperti ini,
anak kita mendapat info yang menyesatkan. Menyesatkan? Iya, info yang
membuat anak-anak menjadi ketakutan menyambut kedatangan "tamu bulanan"
ini.Berulang kali Zahra
menyatakan ketakutannya, "Bunda, memang kalau haid nanti perutnya, akan
saaakitttt sekali?" pertanyaan ini, meskipun telah berulang kali
dijelaskan selalu muncul.
Ketika di sekolah mereka (Zahra dan teman-teman) sering berbagi cerita, yang sudah mendapat
haid, akan menceritakan pengalamannya kepada yang lain. Nah, cerita yang
kerap kali menyesatkan muncul di sini. Untungnya Zahra seringkali
bertanya kembali, untuk mencari kebenaran cerita teman-temannya. Cerita yang Zahra dapat dari teman-teman:
Haid akan sangat menyakitkan.
Kalau sedang haid tidak boleh keramas dan gunting kuku (masih adakah orang tua yang mengajarkan hal semacam ini?)
Darah haid keluarnya banyak.
Rasa sakit ketika haid akan dialami seumur hidup.
Nah, apa yang Saya lakukan mendapat pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Menceritakan pengalaman pribadi kita, ketika mendapat haid.
Mengajak bersama-sama membaca artikel mengenai haid. Tentunya sambil sesekali kita menjelaskan.
Berusaha terus berkomunikasi dengan jujur.
Alhammdulillah ketika saatnya tiba, Zahra sudah siap, tidak
takut dan panik menyambut haid "tamu bulanan" pertamanya. Saya yang malah jadi gimana
gitu, rasanya sukar dilukiskan, melihat anak kita tumbuh besar, ada perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Yang pasti, sebagai ibu,
mencoba menjelaskan dengan baik, tidak memaksakan Zahra untuk seketika berubah
menjadi dewasa. Toh sejatinya, Ia masih anak-anak, Insya Allah pelan dan
pasti semua tanggung jawab sebagai muslimah akan Saya
jelaskan.
hmmm ... mencoba membayangkan rasanya ketika putriku juga mendapatkan tamu bulanan pertamanya .. mungkin rasanya seperti melepas dia di hari pertamanya bersekolah, ya?
rasanya melebihi masa melepas anak di hari pertama Mbak, ada yang berbeda, apa ya? seperti campuran bahagia dan tidak percaya, juga ada rasa haru, ternyata anak kita sudah gadis, dan tanggung jawab kita untuk menjaganya makin besar, apalagi melihat perkembangan anak2 sekarang duhhh jadi deg2n makin nambah.... hehehe pokoknya bikin gerimis deh :) #btw, terima kasih ya sudah mau singgah, salam kenal dan salam hangat :)
hmmm ... mencoba membayangkan rasanya ketika putriku juga mendapatkan tamu bulanan pertamanya .. mungkin rasanya seperti melepas dia di hari pertamanya bersekolah, ya?
ReplyDeleterasanya melebihi masa melepas anak di hari pertama Mbak, ada yang berbeda, apa ya? seperti campuran bahagia dan tidak percaya, juga ada rasa haru, ternyata anak kita sudah gadis, dan tanggung jawab kita untuk menjaganya makin besar, apalagi melihat perkembangan anak2 sekarang duhhh jadi deg2n makin nambah....
ReplyDeletehehehe pokoknya bikin gerimis deh :)
#btw, terima kasih ya sudah mau singgah, salam kenal dan salam hangat :)